KIPRAH PEREMPUAN DI POLITIK

dari kiri: Yusuf, Yuli, Fajri, Devi

Fajri Hidayatullah

Sejak Indonesia merdeka tahun 1945 dan dikeluarkanya maklumat untuk melaksanakan pemilu pertama kalinya dari Wakil President Muhammad Hatta, tetapi maklumat belum bisa dilaksanakan, karna Belanda dan sekutunya berniat melaksanakan agresi militer ke-2 untuk menjajah kembali bangsa Indonesia hal ini dapat dilihat dari sejarah di ambarawah yogyakarta dan dibeberapa wilayah lainnya sampai bangsa indonesia benar-benar merdeka tahun 1949, sehingga pemilu bisa dilakukan pada tahun 1955.

Hasil dari pelaksaanaan pemilu ini belum bisa terlihat adanya keterwakilan perempuan di politik karena pada masa itu perempuan belum diberikan ruang untuk berpolitik praktis, tetapi perempuan mempunyai andil yang besar dalam merebut kemerdekaan indonesia sehingga bangsa Indonesia bisa merdeka. Masuk ke Orde Baru dan dilaksanakan pemilu yang katanya demokrasi tetapi realita yang ada hanya demokrasi yang semu belaka karena langsung bisa diketahui siapa pemenangnya tetapi keterwakilan perempuan sudah bisa terlihat walaupun hanya untuk memperbesarkan partai bukan untuk diberdayakan secara baik sesuai g tetap harus bisa menjaga diri semestinya perempuan seperti Raden Ajeng Kartini yang telah menjadi panutan para perempuan untuk meminta haknya yang sama dengan laki-laki tetapi tetap harus bisa menjalankan fungsinya sebagai perempuan terlebih lagi sebagai seorang ibu yang sudah memiliki seorang anak.

Enggan ranahnya atau kodrad sebagai perempuan yang seutuhnya perempuan, jadi dimasa orde baru pemilu beberapa kali dilaksanakan hasilnya bisa langsung bisa diketahui siapa pemenangnya selama pemilu dilaksanakan perempuan dijadikan untuk pemanis atau simbolis saja dalam meraih kekuasaan hingga masa orde baru berakhir masuk ke masa paska reformasi dan pemilu tahun 1999, sistem demokrasi terus dilakukan penataan di segala lini yang berkaitan dengan sistem pemilu demokrasi yang tetap sesuai UUD 1945 dan Pancasila, kuota keterwaketerwakilan perempuan terus ditambah dari kepengerusan partai politik dan sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat serta jabatan public militer dan lainnya, perempuan diberikan kesempatan untuk mengembangkan karir atau memperjuangkan hak sesama perempuan tentunya dengan catatan bahwa tidak keluar dari kodrad sebagai perempuan, dari masa-kemasa banyak perempuan yang melakukan perubahan untuk sesama kaumnya tidak hanya di Indonesia, banyak perempuan hebat yang telah menjadi contoh di duniah seperti Lucghian W Pye yang melakukan perjuangan dalam pembangunan politik sejak tahun 1962 lalu ada Panda Na Syifa yang mencetuskan Feminisme di india tempat lahirnya sekarang hampir perempuan menguasai jabatan publik dan profesi yang biasa dilakukan laki-laki bisa dilakukan oleh perempuan sehingga realita yang terjadi sekarang seakan perempuanlah yang menjadi kepala untuk laki-laki seperti dalam rumah tangga istrilah yang mempunyai peran lebih dalam bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga termasuk suami apakah ini yang dimaksud emansipasi perempuan? Entahlah hanya perempuan dengan hati nuraninya bisa menjawabnya mungkin ini menjawab dari J.J. Roussou.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *