Ikatan Kebangsaan Kita

“Presiden SBY memaknai Pancasila 1 Juni 1945 menjadi tiga hal yakni pertama Pancasila telah mengangkat dan memberikan kerangka solusi menyangkut Hubungan Nasionalisme dan internasionalisme /Globalisasi”.

Sejak kemarin pagi hampir sebagian besar teman-teman saya di media sosial dan grup Whatsapp (WA) bergiliran mengirimkan profil foto baru mereka memperingati Pekan Pancasila. Ya Pancasila 1 Juni. Sengaja saya tulis Pancasila 1 Juni, karena jika kita membaca sejarah penetapan Pancasila pada 1 Juni menimbulkan perdebatan puluhan tahun. Ada tarik ulur yang luar biasa soal penetapan ini.

Yamin, Supomo dan Soekarno

Kita tentu tidak lupa bahwa tanggal 1 Juni 1945, Soekarno pemuda yang luar biasa itu berpidato soal Pancasila di BPPUPKI. Sebelumnya M. Yamin dan Supomo pun telah berpidato lebih dahulu. Ada debat panjang dan bernas para pendiri bangsa soal ideologi untuk negara bekas jajahan Belanda yang ingin mereka merdekakan dari Jepang ini.

Perdebatan yang cenderung dianggap bertele-tele ini menyebabkan “keterlambatan ” deklarasi kemerdekaan Indonesia. Para pemuda yang kurang sabar menganggap Soekarno dan Hatta terlalu memberi angin pada Jepang. Mereka menculik keduanya ke Rengasdengklok dan memaksa agar segera diumumkan kemerdekaan. Perjalanan sejarah menyebutkan pada bulan puasa 17 Agustus 1945, Sukarno dan Hatta akhirnya memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Pemerintahan parlementer kemudian menjadi sibuk jatuh bangun di negara yang muda ini. Komunis mendapat tempat tumbuh subur bahkan jadi partai terbesar ke empat pada Pemilu 1955. Kejatuhan Soekarno akibat pemberontakan PKI mengubah arah sejarah dan terjadi pemutarbalikan sejarah.

Buku Putih Orde Baru

Rezim Orde Baru yang ingin menghilangkan pengaruh Soekarno mulai melakukan upaya masif. Salah satunya adalah menerbitkan buku tipis karangan Nugroho Noto Susanto berjudul “Naskah Proklamasi Jang Otentik dan Rumusan Pancasila Jang Oetentik” . Nugroho kemudian menjadi Menteri Pendidikan dan kebudayaan. Bersama Pangkopkamtip Sumitro mereka sukses membungkam mahasiswa dengan Program NKK (Normalisasi Kehidupan kampus). Dewan mahasiswa dibubarkan. Pancasila? Pancasila versi Orde Lama dilarang!

Pada 1 Juni 1970, Kopkamtib secara resmi melarang peringatan Pancasila. Orde Baru kemudian melakukan kanalisasi terjemahan Pancasila versi mereka. Badan baru di bawah presiden bernama BP7 dibentuk untuk mendidik rakyat soal Pancasila versi Orba. Yang tidak ikut Penatapan P4, tak bisa masuk kerja di instansi pemerintah. Tiap sekolah sejak SD diwajibkan mengajarkan PMP (Pendidikan Moral Pancasila). Sampai ke bangku kuliah. Saya masuk kuliah tahun 1993, masih ada mata kuliah Pancasila 2 SKS. Jatuhnya Suharto pada 20 Mei 1998 membuka babak sejarah baru soal pancasila ini. BP7 bubar.

1 Juni 2006

Dengan semua pertolongan Tuhan, bangsa kita melewati fase demokrasi yang bergolak. Pemerintahan pulih. Presiden Habibie, Presiden Gusdur, Presiden Megawati dan Presiden SBY menjadi pemimpin. Dengan stabilitas demokrasi, perbincangan soal Pancasila versi 1 Juni 1945 menjadi prioritas pemerintahan.

Hingga pada tanggal 1 Juni 2006, sebelum 2 tahun pemerintahannya Presiden SBY berpidato dalam Simposium Peringatan hari Pancasila di JCC Senayan jakarta.
Langkah Presiden SBY yang berada di sisi Pancasila 1 Juni 1945 ini secara resmi memperlihatkan sikap pemerintah yang ingin memulihkan nama baik dan warisan Presiden Soekarno sebagai Ideologi Republik. Setelah pidato 1 Juni 2006, tradisi memperingati hari Pancasila dilanjutkan hingga periode pertama pemerintahan SBY.

Ketika 2009 – 2014 Taufik Kemas menjadi Ketua MPR, peringatan Hari pancasila menjadi semakin meriah. Bahkan beliaulah yang mencetuskan ide 4 pilar MPR yang menjadi tugas anggota MPR untuk menyosialisasikannya ke daerah. Tradisi menghormati Pancasila 1 Juni 1945 ini dilanjutkan oleh Presiden Jokowi. Dan menetapkannya sebagai hari libur.

Ikatan Kebangsaan

Suka tidak suka harus diakui bahwa Pidato SBY pada 1 Juni 2006 adalah momentum besar. Dalam pidato yang panjang itu, SBY menguraikan perjalanan sejarah ideologi bangsa.

Presiden SBY memaknai Pancasila 1 Juni 1945 menjadi 3 hal yakni pertama Pancasila telah mengangkat dan memberikan kerangka solusi menyangkut Hubungan Nasionalisme dan internasionalisme /Globalisasi.

Kedua Pancasila 1 juni 1945 memperlihatkan hubungan demokrasi dengan kesejahteraan dan keadilan sosial. Dan ketiga bagaimana hubungan Negara dan agama atau makna ketuhanan dan bagaimana agama harus dijalankan oleh pemeluk-pemeluknya.

Ketegasan berpihak pada ideologi dilakukan SBY dengan jalan penegakan hukum. Pada 1 Juni 2008, ketika sekelompok orang di Monas berdemo mendukung Pancasila, FPI melakukan pembubaran dengan kekerasan. Perbuatan FPI ini di mata SBY merupakan pelanggaran hukum. Tidak boleh ada kekerasan apapun yang dilakukan terhadap warga masyarakat yang berbeda paham oleh warga masyarakat lain. Kita ingat ribuan polisi mengepung markas FPI di Petamburan untuk menangkap pelaku kekerasan. Pada 30 Oktober 2008 Pengadilan kemudian memvonis Habib Rizieq dan Munarman selama satu tahun enam bulan penjara.

Peringatan 1 juni 2017 ini tentu relevan dengan kondisi kita saat ini. Kita masih belum pulih dengan luka luka pasca-Pilkada DKI. Diakui atau tidak menguatnya kekhawatiran akan perpecahan semakin meningkat di era digital ini. Era yang penuh dengan provokasi dan hoax demi perang kepentingan.

Untuk menutup perenungan ini, saya ingin kutip kembali kalimat menarik pada pidato Presiden SBY 1 Juni 2006. “Jangan sampai ikatan kesukuan, ikatan keagamaan, ikatan etnis, ikatan kedaerahan dan lain-lain menabrak ikatan kebangsaan yang harus kokoh kita pertahankan.”

Tabik

Oleh: Erma Suryani Ranik  – (Anggota Komisi III DPR RI – Fraksi Partai Demokrat, Komunikator Politik Partai Demokrat)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *