Biografi Erma Suryani Ranik

MASA KECIL

Erma Suryani Ranik, anggota DPD RI dengan nomor anggota B 80 ini adalah perempuan Dayak yang lahir Ketapang pada 14 Mei 1975. Ayahnya adalah seorang Bintara POLRI sementara ibunya adalah mantan buruh pabrik yang kini menjadi ibu rumah tangga biasa.

Sebagai anak ke 2 dari 3 bersaudara, erma menjalani kehidupan sederhana dan akrab dengan lingkungan disekitarnya. Meski terlahir sebagai seorang Dayak dan Kristen, orang tuanya tak menyekolahkan di sekolah yang berbasis agama. Erma, sejak SD hingga menamatkan perguruan tinggi selalu masuk ke sekolah negeri. ? Biaya murah dan biar akrab dengan orang yang berbeda latar belakang,? demikian alasan Ranik, ayahnya. Ini membuat erma terbiasa bergaul dengan orang dari latar belakang agama, suku dan strata sosial yang berbeda.

Memulai pendidikan Sekolah Dasar di SDN 33 Sukabangun Ketapang, ia dikenal sebagai murid yang sangat gemar membaca. ?Dia sejak kelas V SD sudah sering membaca Majalah Tempo yang saya bawa pulang. Kadang ibunya juga sering marah, kalau makan juga masih membaca,? kenang pak Ranik. Usai menamatkan SDN sebagai pemegang NEM tertinggi kedua, ia melanjutkan sekolahnya ke SMPN3 Ketapang.

Tahun 1991, erma menyelesaikan pendidikan SMP dan kemudian melanjutkan ke SMAN 3 Ketapang. Pada masa remaja ini, bakat dan kemampuannya memimpin semakin menonjol. Ia terlibat dalam Gerakan Pramuka dan mewakili sekolahnya saat berlangsung Gladian Pimpinan Satuan Pramuka Kab. Ketapang.

Keluarga Besar Ranik

Erma tidak pernah memiliki cita-cita melanjutkan ke perguruan tinggi. ?Bayangan saya yang paling hebat adalah, tamat SMA, saya akan kerja sebagai buruh di perusahaan kayu lapis tempat ibu saya bekerja sejak SMP,? kenangnya. Namun, program PMDK (Penelusuran Minat, Bakat dan Kemampuan) Universitas Tanjungpura Pontianak mengubah segalanya. Ia dinyatakan lolos sebagai mahasiswa jalur PMDK di Fakultas Hukum. Jadi ia tidak perlu ikut SIPENMARU.

Kedua orangtuanya juga tak menyangka Erma lolos PMDK. ?Kelolosannya membuat saya bertekad bekerja lebih keras lagi. Kami ingin melihat ia menjadi seorang sarjana pertama di keluarga kami,? kenang Rusmiati, ibunya.

Selama menjadi mahaiswa, Erma tak banyak aktif di kegiatan kampus. Kegiatan Mahasiswa Hukum Pencinta Alam (MAKUMPALA) juga tak lama diikutinya. ?Saya ingin memenuhi janji ke ibu, agar ia tak berlama-lama jadi buruh demi kuliah saya,? kenangnya. Untuk menambah biaya, ia sering mencari uang tambahan. Mulai dari menjadi tenaga pemasaran sebuah produk kecantikan sampai mengirim tulisan opini di sebuah koran lokal. ?Honornya nulis kalau dimuat bisa untuk biaya hidup 2 minggu. Honor jadi sales bisa menyambung hidup 2 minggu,? katanya sambil tersenyum. 4,5 tahun kemudian tepatnya february 1998, ia menyelesaikan kuliahnya.

Wartawan dan Konsultan

Lulus dari Fakultas Hukum, Erma kemudian melanjutkan hobi menulis. Ia tak kembali ke Ketapang. Menetap di Pontianak, January 1999, ia kemudian diterima sebagai wartawan di majalah Kalimantan Review. Sebuah media lokal terbitan LSM besar di Kalimantan Barat. Ia memulai karirnya sebagai reporter lapangan hingga menjadi editor isi. Erma meliput konflik, menulis budaya, hukum dan macam-macam lagi terkait isu masyarakat adat. Selain itu ia juga menjadi kontributor sebuah Harian berbahasa Inggris yang terbit di Jakarta. “Kalau mengandalkan gaji menjadi jurnalis media LSM, saya tidak bisa bayar cicilan sepeda motor dan membantu orang tua,” katanya mengenang.

Bekerja sebagai wartawan di media LSM, membuat Erma mendapatkan kesempatan ke luar negeri. Tahun 2000, ia ke Philipina. “Itu pelatihan tentang Standart HAM bagi masyarakat adat yang diselenggarakan oleh Uni Eropa untuk Indonesia, Philipina dan Malaysia,” jelasnya.

Pelatihan pertama ini memberinya pelajaran berharga. Ia ditunjuk menjadi Kordinator Nasional untuk Indonesia. “Selain itu saya juga sadar bahasa Inggris penting sekali karenanya saya bekerja keras untuk belajar bahasa Inggris,” tegasnya.

Sejak itu ia sering ke luar negeri. Philipine dan Thailand adalah negara yang paling sering di kunjungi. Tulisan dan liputannya soal konflik juga ternyata menimbulkan kesan mendalam bagi akademisi luar. “Juni 2002, saya diundang sebagai pembicara tentang Konflik dalam sebuah Seminar di Universitas SOPHIA di Tokyo Jepang. Saya kaget kerena saya satu panel dengan Pak Thamrin Amal Tamagola dan Arianto Sangaji, pembicara yang sudah sangat terkenal di Indonesia,” kenangnya.

Maret 2003, Erma memutuskan untuk berhenti sebagai wartawan di Kalimantan Review. “Saya ingin mecoba bidang baru dan sistem managemen baru,” tegasnya. Ia tak bisa berleha-leha. Mendirikan sebuah lembaga baru bernama Perkumpulan PENA, membuatnya harus bekerja keras. Undangan ke luar negeripun tak berhenti.

May 2003, ia lolos dalam Program Study Banding yang diadakan oleh Departemen Pembangunan Internasional Inggris (DFID). Ia mendapat kesempatan selama 2 bulan ke Inggris. Juni 2003, Pusat Study HAM Oslo University Norwegia juga mengundangnya sebagai pembicara di salah satu Training di Oslo. Pada tahun yang sama, tepatnya Agustus 2003, ia menjadi pembicara dalam Konvensi Cendikiawan Asia (ICAS 3) yang diselenggarakan oleh National University Singapore.

Pemilu 2004, Erma bekerja juga sebagai Field Officer Program Pemilu dari Common Ground Indonesia, sebuah LSM internasional yang bergerak dalam isu transformasi konflik. Tahun 2005, Erma bergabung dalam Proyek Acces to Justice UNDP di Kalimantan Barat.

Tahun 2005, Erma terpilih menjadi salah satu diantara 4 orang Indonesia yang lolos seleksi untuk Kursus Pemimpin Muda Asia yang diselenggarakan oleh UNDP. ?Saat itu peserta pelatihannya semua negara Asia sampai Asia Tengah, mulai Indonesia sampai Iran,? kenangnya.

Pengalaman luar negerinya juga semakin kaya saat ia lolos mengikuti Pelatihan Hukum Internasional di Greenlandpada Juni ? Agustu 2006. ?Saya sangat bangga pernah kesana. Pelatihan itu adalah pelatihan yang hebat karena narasumbernya sangat berpengaruh di dunia internasional juga diselenggarakan di tempat yang hebat yakni di Kutub Utara,? kenang Erma.

Erma di kutub utara

Tahun 2006, Erma memiliki mimpi baru. Ia sama dengan beberapa hanya bermimpi dirikan stasiun televisi. Cita-cita ini kemudian buah manis, dengan disiarkannya RUAI TV. Erma diminta menjadi Direktur program dan Produksi RUAI

“Saya tidak punya pengalaman apapun soal televisi. Basis saya adalah jurnalis media cetak. Saya ingin melihat orang Dayak mampu mendirikan stasiu televisi. Jadi saya baca buku-buku tentang televisi dan akhirnya mendesign konsep acara Ruai TV dan targetnya. Satu yang tidak saya utak-atik yakni soal cashflow keuangan, saya nggak ngerti. Jadi ada kawan yang mengerjakan bagian ini. Target saya waktu itu hanya satu. Membuat RUAI TV lolos dan dapat rekomendasi dari KP

Mendesign RUAI membuat Erma bekerja keras, ia tidak hanya menyiapkan proposal izin penyiaran, melakukan lobi tetapi juga membuat contoh produksi siaran. September 2006, RUAI TV lolos dalam Evaluasi Dengar Pendapat (EDP) oleh KPID. “Saya sangat bangga dan lega dengan pencapaian ini. EDP adalah titik krusial dalam pendirian sebuah stasiun televisi.” tegas erma.

Meretas Jalan Politisi

Usai RUAI TV mendapatkan rekomendasi, erma kemudian mulai sedikit demi sedikit menyerahkan pengelolaannya pada orang baru. Oktober 2006, erma bergabung sebagai Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat pada EC-Indonesia FLEGT Support Project. ?Saya kembali berkeliling kampung untuk melakukan pemberdayaan masyarakat. Sesuatu yang sangat menyenangkan,? katanya sambil tersenyum.

Perjalanan sebagai tenaga ahli pemberdayaan massyarakat ini yang kemudian memicunya ingin terjun di politik. ? Waktu itu saya ke daerah perbatasan. Saya mendapatkan keluhan dari masyarakat disana. Lalu mereka bertanya, apa yang dibuat oleh wakil-wakil mereka di Senayan. Saya tersentak. Saat itu saya berpikir bahwa saya tidak tahu soal politik. Tapi saya tertarik untuk membuat terobosan baru. Saya memutuskan akan mencalonkan diri sebagai anggota DPDRI. Memilih DPD RI adalah pilihan sadar. Saya tidak mau repot dengan urusan partai, yang pasti jadi ribut soal nomor urut calon. Saya ingin yang praktis saja,? paparnya panjang lebar.

Awalnya tak semua mendukung. Beberapa orang merasa, Erma tak cocok jadi politisi. ?Selama ini kalo mau jadi calon legislatif modal duitnya besar. Saya yakin bahwa kak Erma tak punya uang sebanyak itu,? kenang D.O.Srikujam mantan Direktur Perkumpulan PENA.

Suryadi Ranik, adik kandungnya juga tak yakin Erma cocok jadi politisi. ?Kak Erma terlalu egaliter dan penampilannya tak lepas dari celana jean, gimana mau jadi politisi? Apalagi ia cenderung tidak bisa diplomatis. Apa yang dia pikir salah pasti dia omongkan langsung. Ini kan bukan gaya politisi,? kata Suryadi sambil tertawa.

Kedua orangtuanya juga bingung dengan langkah baru Erma. ?Dulu waktu lulus perguruan tinggi, saya minta dia jadi Pegawai Negeri, dia menolak keras. Lalu bilang mau jadi calon DPD. Pusing saya awalnya,? kenang pak Ranik, sang ayah.

Tapi, niat untuk membuat terobosan baru meyakinkan orang-orang dekatnya. Sejak Juni 2008, semua orang dekat Erma mengumpulkan KTP sebagai prasyarat pendaftaran. ?Sejak lulus kuliah, Erma ndak pernah minta bantuan apapun dari kami. Malah dia selalu membantu kami orang tuanya. Waktu dia calon DPD, dia telp saya minta bantuan untuk mengumpulkan KTP dari para tetangga. Saya keliling desa, bawa profil dia untuk meyakinkan tetangga menyerahkan KTP dukungan untuk dia,? kenang ibu Rusmiati.

14 July 2008, dengan dukungan KTP 3333 buah, Erma resmi mendaftar sebagai salah satu Calon Anggota DPD RI. Ia bertekad untuk berfokus pada pencalonan sebagai anggota DPD RI. Erma memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak kerjanya yang semestinya baru berakhir pada tahun 2010.

?Banyak teman-temannya menyesalkan keputusan ini. Awalnya malah dia mau berhenti per 1 January 2009, tapi atasannya melarang dan memohon agar ia bekerja sampai akhir February 2009. Kami juga waktu itu khawatir. Bagaimana kalo tidak terpilih. Kan sayang pekerjaannya. Tapi Kak Erma itu orangnya selalu ingin fokus. Dia tidak mau setengah-setengah. Makanya dia mengundurkan diri dari EC-Indonesia FLEGT SP,? jelas D.O.Srikujam,

Desember 2008, semua penggiat Perkumpulan PENA secara resmi dikonsentrasikan untuk program kampanye pemilu 2009. Secara keorganisasian Desember 2008, berdirilah Niut Conculting Partner, yang bertanggung jawab meloloskan Erma Suryani Ranik sebagai anggota DPD RI. Rapat persiapan kampanye mulai serius digelar. Buku teori marketing politik mulai dibaca. Erma bahkan pergi khusus ke Jakarta mengikuti seminar sehari strategi marketing kandidat yang diselenggarakan oleh sebuah majalah berita.

?Setelah melalui perdebatan keras dan analisa sumber daya internal. Kita memutuskan bahwa branding resmi : Erma Suryani Ranik adalah Cerdas, Muda dan merakyat. Kita mendesign strategi kampanye yang murah dan efektif,? jelas Srikujam yang juga adalah kordinator the Erma Ranik Center.

Srikujam menjelaskan bahwa secara keorganisasian mereka menyadari bahwa Perkumpulan PENA adalah organisasi yang sangat kecil dibanding dengan LSM lain di Pontianak. Apalagi beberapa petinggi di LSM besar tersebut mencalonkan diri sebagai anggita DPD. ?Tapi, kami sangat percaya diri, sebab meski kami kecil, yang kami calonkan adalah orang besar. Kak Erma sudah sangat terkenal di kampung-kampung sebagai orang yang cerdas dan merakyat. Jadi tinggal mencari alat kampanye yang efektif,? lanjut Srikujam.

Berkampanye cerdas, murah dan tidak menipu rakyat menjadi catatan penting. ?Erma menekankan bahwa ia tidak akan memberi pulsa, sumbangan hanya demi sebuah suara agar terpilih menjadi anggota DPD. Akibatnya dia sering kena maki konstituen. Ini juga akibat dia mencantumkan nomor HP pribadinya di alat-alat kampanye. Saya sebenarnya tidak terlalu setuju soal ini,? kenang Marcelina Lin, Direktur Perkumpulan PENA.

Niut Consulting partner. bertugas untuk mendesign alat kampanye, mendistribusikan alat kampanye dan mengkordinasi relawan yang dibentuk di beberapa kabupaten. Relawan hanya dari beberapa kabupaten dan tidak semua kecamatan ada relawannya. ?Relawan ini banyak berasal dari kawan-kawan pekerja LSM yang mengenal kak Erma dan bertekad membantu dia untuk lolos,? jelas Srikujam.

Menurut Marcelina, mereka sengaja tak membuat stiker dan membatasi jumlah baliho yang dicetak. Seluruh Kalimantan Barat, hanya 22 buah baliho yang dicetak. Di kota Pontianak bahwa tak ada sebuah balihopun yang dipajang. Alasannya pemilih Pontianak sudah jenuh dengan ratusan baliho yang memenuhi setiap sudut jalan. Niut Cunsulting partner, memutuskan mencoba kampanye lain. ?Kami membuat belasan ribu VCD tentang erma dan disebarkan pada pemilih. Demi menghemat biaya, perbanyakan VCD dilakukan dengan laptop masing-masing. Sampai optik DVDroom laptop saya rusak,? kenang Marcelina sambil tertawa.

7 January 2009, secara resmi Erma melaunching nomor urutnya kepada khalayak Kalimantan Barat. Ia sengaja memilih tanggal ini karena sesuai dengan nomur urutnya. Launching resmi ini dipilih karena ia ingin sejak awal DPD RI itu dikenal masyarakat. Jangan sampai pemilih bingung dengan perbedaan kandidat DPD dan kandidat partai.

Pada saat konferensi pers, Erma menyatakan ia hanya menargetkan memperoleh peringkat ke empat pada Pemilu 2009. ?Saya menyadari bahwa saya sangat hijau dalam politik. Pesaing saya semua orang tangguh. Para anggota DPD periode 2004-2009 semua mencalonkan diri, mantan anggota DPR dan DPRD, tokoh agama dan petinggi LSM. Selain itu beberapa calon memiliki nomor urut bagus sesuai dengan nomor parpol besar. Sedang saya tidak seberuntung itu,? jelasnya.

Kampanye resmi Erma sendiri baru dimulai pada 1 Maret 2010, saat dirinya secara resmi keluar dari EC-Indonesia FLEGT SP. Ia berkeliling beberapa kabupaten di Kalimantan Barat dengan mobilnya dan seorang supir yang memang disewa khusus untuk itu. ?Mobil saya seperti rumah berjalan. Sejak 1 Maret sampai masa minggu tenang saya berkeliling. Hari pertama minggu tenang baru saya kembali ke Pontianak,? kenang Erma.

?Modal kampanye erma hanya VCD, laptop, LCD dan speaker aktif. Metodenya sederhana, putar film tentang dia, lalu tanya jawab dengan konstituen. Selagi tanya jawab konstituen hanya disuguhi teh, kopi dan biskuit.,? kenang Elisabeth Nusmartaty sahabat Erma yang mengikuti kampanye di Sanggau.

Kampanye Erma Suryani Ranik

Sejarah akhirnya mencatat, Erma memenuhi target pribadinya. Ia terpilih sebagai pengumpul suara terbanyak ke empat. Dengan jumlah suara 118.340 suara, Erma juga sekaligus membuat sejarah mencatat bahwa Kalimantan Barat menjadi provinsi pertama yang berhasil meloloskan 4 orang perempuan sebagai anggota DPD RI.

?Kami sempat merasa tidak percaya diri. Di beberapa tempat terjadi pengurangan suara kami yang sangat luar biasa. Ini membuat Kak Erma bersuara di media lokal, memperingatkan para kandidat dan penyelenggara pemilu untuk bermain fair. Syukurlah meski dicurangi, kak Erma tetap lolos. Kami dari Perkumpulan PENA bangga dengan pencapaian ini,? kata Srikujam bangga.

Unsur Pimpinan DPD

Sejak dilantik pada tanggal 1 Oktober 2009, Erma Suryani Ranik mulai menapaki kehidupan selaku politisi. Pada alat kelengkapan DPD, ia bergabung dalam Komite 4, yang bertanggungjawab untuk isu APBN, PAJAK, dan KOPERASI. Selain itu ia juga tergabung dalam alat kelengkapan lain yakni PANITIA AKUNTABILITAS PUBLIK (PAP). Dalam kelengkapan yang terakhir ini Erma terpilih menjadi unsur pimpinan, yakni sebagai Wakil Ketua PANITIA

“Terpilihnya Erma sangat membanggakan kami, karena dari seluruh DPD RI asal Kalimantan Barat, hanya dia yang terpilih menjaddi unsur pimpinan. Ini menunjukan pencapaian yang sangat bagus untuk orang baru seperti dia,” kata Marcelina.

Menjadi unsur pimpinan PAP adalah tantangan baru bagi Erma. PAP adalah alat kelengkapan baru di DPD, jadi harus dimulai dari awal untuk menentukan bentuknya ke depan. ? Saya punya mimpi PAP akan menjadi alat kelengkapan yang efektif untuk melakukan pengawasan Akuntabilitas Pemerintah Daerah dalam menjalankan tugasnya. Kita ingin menjadi mitra yang strategis bagi pemerintah daerah di seluruh Indonesai dalam menerapkan prinsip-prinsip tata kelola pemerintahan yang baik (good governance), tegas Erma.

The Erma Ranik Center

Saat mencalonkan diri, Erma menjanjikan bahwa dirinya akan mendirikan the Erma Ranik Center, sebagai simpul komunikassi ia dan konstituennya.Janji politik tersebut telah ia laksanakan. ?Sejak 1 Oktober 2009, yakni sejak beliau dilantik, saya bersama seorang staff sudah resmi menangani the Erma Ranik Center.,? Jelas Srikujam. Selain mendirikan the Erma Ranik Center, Erma juga membuat website pribadi. Menurut Erma pembangunan website pribadi ini adalah bagian penting dari cara ia ingin selalu terhubung dengan konstituen.?Agar konstituen tahu apa saja aktivitas saya dan apa yang sedang saya perjuangkan untuk Kalimantan Barat di senayan ini,? katanya.

Menurut Erma, meski berada di Komite 4 dan PAP, ia juga memperhatikan isu PENDIDIKAN, EKONOMI KERAKYATAN DAN PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM YANG ADIL DAN LESTARI. “Saya sangat ingin selalu diingatkan oleh rakyat Kalbar agar selalu berjuang demi kepentingan daerah. Karena itu saya juga tak akan bosan-bosan sejak dilantik menyuarakan problem pembangunan perbatasan.” pungkas Erma.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *